Beranda Opini Koopsussgab vs Teroris, Perang Negara Melawan Sekte

Koopsussgab vs Teroris, Perang Negara Melawan Sekte

Menarik membahas Koopsussgab, terlebih ketika RUU Teroris sudah disahkan menjadi Undang-Undang (UU). Di banyak kesempatan, saya selalu bercerita bahwa aksi terorisme merupakan salah satu strategi perang asimetris. Namun banyak yang tak percaya, terserahlah, toh ini hanya sebatas sudut pandang. Tapi bukan berarti tanpa alasan.

Kita ulas kelebihan-kelebihan Indonesia terlebih dulu. Indonesia, luasnya mencapai dua pertiga Eropa Barat. Anda bisa bayangkan kan, itu sama saja Anda terbang dari London menuju Bagdhad. Negaranya kepulauan dengan persentasi laut lebih besar ketimbang daratannya. Garis pantainya ratusan ribu mil, tak tahu angka pastinya. Sukunya ratusan, berbeda dengan Afghanistan yang hanya 40 suku tapi perang terus hingga memasuki kurun waktu tahun ke 40-an. Dengan jumlah suku tersebut, Anda sudah bisa membayangkan, berapa bahasa yang ada di Indonesia berikut ragam adat-istiadatnya.

Sumberdaya alammnya melimpah ruah, posisinya di lintang persilangan dimana laut kita masuk menjadi bagian jalur transportasi dagang Internasional. Lagi-lagi sudah bisa kita bayangkan kepentingan negara-negara lain di Indonesia. Kemudian, jika kita mengacu tentang pengusiran kulit berwarna (maaf tidak ada maksud untuk rasis) yang dilakukan bangsa Eropa (kulit putih), hanya di Indonesia yang penduduk aslinya tidak terusir dari daratan, tak terkecuali Papua, yang katanya masih satu ras dengan penduduk asli Australia, rumpun Malenisia.

Dalam sejarah perang pun, mungkin Indonesia bisa tercatat sebagai negara yang dijajah cukup lama, 350 tahun oleh Belanda, plus 3,5 tahun oleh Jepang, dan tragisnya, kita tidak terusir dari daratan. Sementara Amerika Serikat (AS) sendiri dalam penjajahan Vietnam 45 tahun, berujung kekalahan bagi negeri Paman Sam itu. Perang Vietnam ini menjadi pelajaran sekaligus “warning” terhadap AS, bahwa negara-negara di kawasan Asia Tenggara tidak bisa dianggap remeh.

Dan sekali lagi, mungkin hanya di Indonesia yang ibukotanya dikuasai penjajah, tapi bisa berpindah-pindah. Inilah yang membuat penjajah kala itu dibuat bingung. Apalagi saat itu Belanda menggunakan senjata canggih hanya dibalas dengan sebatang bambu runcing yang mungkin sudah “dijampi-jampi,” sehingga memiliki kekuatan mistik.

Hanya di Indonesia, Si Pitung ditembak peluru panas tidak mempan, sementara AS baru mengangkatnya di film-film produksi Hollywood yang tentaranya kebal atas timah panas, seperti Universal Soldiers dan pahlawan komik Avengers. Dengan begitu, boleh dong kita mengklaim mistik terlengkap ada di Indonesia. Kurang apalagi.

Atas dasar ini, boleh dong ada bersitan hayalan, bahwa bisa jadi negara-negara lain yang ingin menjajah Indonesia berpikir ulang karena hal-hal di atas, selain untuk mengagresi Indonesia butuh dana yang gak sedikit. Berbeda dengan negeri-negeri di jazirah Timur Tengah, bahkan biaya perangnya bisa lebih murah laiknya perang Yaman. Dengan demikian, sebaiknya serang Indonesia pakai perang sekte saja yang dibungkus terorisme.

Teroris Bagian Srategi Mengubah Tatanan secara Virtual

Perubahan tatanan dunia tersebut sifatnya virtual (rekayasa) yang dilakukan oleh “tangan-tangan tak terlihat” imperium global. Melihat Indonesia dengan dominasi penganut Ahlussunnah Waljamaah, “tangan-tangan tak terlihat” ini akhirnya membenturkan paham Ahlussunnah Waljamaah tersebut dengan gerakan ultra fundamentalis seperti salafi-wahabi hingga ISIS.

Gerakan Islam Radikal buktinya dijalankan oleh kelompok yang berfaham Wahabi seperti Al Qaeda in Arabian Peninsula di Yaman, Anshar al-Sharia di Libya, Boko Haram di Nigeria, Al Qaeda Islamic Maghreb Aljazair, al-Shabab di Somalia, Taliban di Afganistan, Muhajidin Indonesia Timur di Indonesia belakangan ISIS.

Dalam berbagai literatur yang ada ISIS dalam urusan strategis politik kepentingan Liberalisme dituding mewakili kepentingan Amerika Serikat dan Inggris menggulingkan Presiden Syiria Bashar al-Assad di luar skenario memanfaatkan kelompok oposisi dan sejumlah bantuan kemanusiaan.

Urusan politik strategis lainnya adalah balkanisasi Syiria yakni zona Syiria utara dari Jarabulus – Afrin – al-Dana. Tony Cartalucci seorang analis ekonomi mengatakan kalau kawasan tersebut merupakan titik tolak Amerika Serikat menguasai Syria dengan dukungan Turki.

Faktanya, lebih dari 60% cadangan migas ada negara-negara yang masyarakatnya di dominasi Muslim. Iran 10%, Arab Saudi, Irak, Iran, Qatar, Kuwait, Yaman, Nigeria, Libya, Kazakstan, Malaysia, Indonesia, Brunai Darussalam cadangan minyaknya mencapai 75,9%.

Selebihnya Venezuela, Rusia, Meksiko, Cina dan Brasil, bentangan ujung Yaman-Laut Kaspia, Pantai Mediterania Timur, Teluk Parsi. Sedangkan Amerika Serikat disebut-sebut cuma 2%. Untuk kawasan Afrika, ambil contoh di Somalia, 2/3 pengelolaan migas telah digarap Conoco Amoco, Chevron dan British Petrolium.

Diketahui pula, sejak 1980-an, Washington memberikan dukungan kepada faksi-faksi Islam konservatif-fundamentalis. Tujuan awalnya adalah melemahkan gerakan nasional progresif di kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah.

Michael Chossudovsky, dalam “Towards A World War: Scenario The Danger of Nuclear,” menegaskan bahwa misi salafi-wahabi dari Arab Saudi kemudian dikirim ke Afganistan dan kawasan Balkan. Mereka didukung oleh CIA-M16-Mossad.

Sasaran strategis ekonominya antara lain adalah bagaimana menguasai kepemilikan korporasi atas minyak Asia Tengah – Timur Tengah. Di lain sisi skema swastanisasi digencarkan sebagai gerakan pengalihan, dimana aset sebuah negara menjadi milik swasta merupakan skema IMF dan World Bank.

Lantas apa urusannya tulisan ini dengan Koopsussgab?
Saya hanya bisa mengatakan, bahwa pembentukan Komando Satuan Khusus Operasi Gabungan (Koopsussgab) sebatas domain upaya menghadapi perang asimetris bertema “Teroris,” yang terkadang tak tanggung-tanggung menumbalkan banyak korban.

Terlepas ada kontroversi, bahkan mungkin mengarah ke tuduhan, Koopsussgab berpotensi melanggar HAM, menangkapi para aktivis gerakan Islam, aktivis Islam yang mana. Sedangkan teroris bukan agama, buat saya itu hanya guyonan “paket wacana” dari negara-negara Asing yang ingin mengeruk. Keamanan dan kedaulatan negara lebih penting ketimbang mendengarkan bacot para “boneka” asing yang selalu melantangkan suara atas nama agama mengepul dana-dana asing. (Foto: Istimewa/Ilustrasi)

Penulis: Abdul Majid, Penggiat Kajian Islam Humanis, Gowa, Sulawesi Selatan.

BERBAGI