Birukuning
FB IMG 1520042884968 - Aktivis dan Pemuda Tolak UU MD3 dan RKUHP

Aktivis dan Pemuda Tolak UU MD3 dan RKUHP

TARAKAN, birukuning.com – Untuk pertama kalinya, sejumlah aktivis Tarakan Kalimantan Utara melakukan aksi kamisan. Di momen perdana ini para aktivis mengangkat topik penolakan pengesahan revisi Undang-undang Nomor 17 Tahun 2014 Tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3), dan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) yang sedang menanti disahkan di DPR RI.

Kegiatan yang digelar di simpang 3 Gedung DPRD Tarakan Jalan Jenderal Sudirman ini diikuti oleh aktivis dari aliansi mahasiswa maupun masyarakat, berbagai kritikan dilontarkan dalam aksi ini baik dalam bentuk puisi, nyanyian, dan teaterikal.
Dikatakan narahubung aksi Kamisan, Dinda aksi ini merupakan yang Perdana di Kaltara yang dipusatkan di Tarakan dengan mengangkat isu menolak pengesahan UU MD3 dan RKUHP karena dinilai tidak memihak kepada rakyat.
“Kebijakan ini tidak merakyat, tidak demokratis, otoriter, dan antikritik. Meskipun sebenarnya Kamisan ini menyuarakan isu-isu HAM tetapi kita memiliki slogan merawat ingatan dan menolak lupa. Dan saat ini isu krusial yang sedang meresahkan adalah UU MD3 dan RKUHP,” terangnya, Kamis (1/3).
Melalui aksi ini, diharapkan dapat didengar oleh pemerintah daerah maupun pusat, DPRD maupun DPR untuk tidak melanjutkan kebijakan yang tidak mewakili keinginan rakyat tersebut karena lembaga negara sudah mulai antikritik, dan kondisi ini sama dengan saat zaman orde baru.
“Ini sangat lucu ya, karena pemerintah terkesan melupakan jati dirinya, sebagai wakil rakyat, mereka inikan berasal dari rakyat, dipilih oleh rakyat, tetapi begitu menjabat melupakan rakyat karena menolak untuk dikritik. Dan hasilnya secara redaksi, mereka mengatakan siapapun yang mengkritik akan diberi sanksi. Hukum ini menginterprestasikan dikriminalisasi,” bebernya.
Lebih lanjut dikatakan Dinda, kebijakan yang otoriter ini akan menjauhkan rakyat dengan pemerintah, sehingga pejabat pengambil kebijakan ini harus diberi teguran karena sudah menciderai hati rakyat. “Harus diketok kepalanya biar sadar dengan rakyat, supaya tidak otoriter,” pungkasnya.
Aksi Kamisan yang dimulau pukul 16.00 – 18.00 Wita ini mendapat pengawalan dari pihak kepolisian, dan berlangsung secara kondusif. Usai melakukan aksi, massa secara tertib meninggalkan tempat acara. (Atr / yn)

Add comment