Birukuning

Pemprov KALTARA Bekerjasama Dengan Tim Wataris UNHAS Untuk Pengukuran Tambak Masyarakat

5f055353c189e0ea6c76a7698edb8322 - Pemprov KALTARA Bekerjasama Dengan Tim Wataris UNHAS Untuk Pengukuran Tambak Masyarakat

birukuning.com, Tarakan- Pemprov Kalimantan Utara (KALTARA) melalui DKP (Dinas Perikanan dan Kelautan) Kaltara, melaksanakan Seminar dan FGD tentang sertifikasi lahan tambak Di Kantor Penghubung Provinsi Kalimantan Utara, Disambut baik oleh para petani tambak yang kebanyakan dari kota Tarakan.

Dalam acara tersebut DKP Kaltara Menggandeng Pusat Penelitian dan Pengembangan Wilayah, Tata Ruang Dan Informasi Spasial ( WITARIS) Universitas Hasanuddin Makassar,

Dengan adanya tim witaris dari Unhas ini, Nantinya, para petani tambak akan tahu, berapa luas tambaknya, Bukan hanya dikira-kira saja, tapi data peta ini akurat, kerena mempergunakan alat yang memang tingkat ke akuratannya sangat terpercaya, Luas tambak kita tidak akan bergeser satu meterpun, maka saya himbau agar secepatnya, semua lahan tambak di Kaltara ini disertifikasi, Kita utamakan yang Areal Penggunaan Lain (APL), Harapan saya, agar jatah Sertifikat yang dimulai awal tahun ini, Kebanyakan dari sektor perikanan, kita akan usulkan melalui Prona ( Proyek Nasional ) ” Jelas H Amir.

Nurjannah dari Tim WITARIS universitas Hasanuddin Makassar menjelaskan, Tugas yang diberikan oleh DKP Kalimantan Utara adalah, melakukan kegiatan, yaitu menganalisa sehingga menghasilkan peta lokasi lahan tambak yang ada di Kaltara.

” Skala yang akan kita gunakan dalam menentukan luas dan wilayah kepemilikan tambak masyarakat yaitu skala detail,  Dalam bahasa ilmiahnya disebut skala Kadaster, ini adalah skala yang sangat rinci, kita tidak bisa menggunakan GPS biasa, karena akurasinya masih bisa bergeser, Bisa kurang 3 meter dari belakang, bisa kurang dari depan, Tapi kita akan gunakan GPS Giodetik, yang tingkat keakuratannya sangat jelas, Giodetik ini juga dipergunakan oleh anggota TNI untuk menentukan sasaran tembak, sehingga tidak meleset,” Jelas Nurjannah.

“Kami menghabiskan waktu selama 20 tahun, untuk mempelajari masalah Remote Sensi, Remote Sensi ini adalah bagaimana teknologi penginderaan jarak jauh,  citra satelit bisa memantau permukaan bumi, dengan tingkat keakuratan yang bisa memberikan informasi yang sesuai dengan kenyataan, peta bisa dikatakan valid atau aktual, kalau sudah mendekati kenyataan,” urai Nurjannah.

Skala makin detail itu berarti semakin mendekati kenyataan, Kalau nantinya kami menghasilkan peta 1 banding 10.000 ribu, itu artinya, 1 Cm dipeta sementara kenyataan di lapangan adalah 100 meter secara faktual, ” kata Nurjannah.

Lanjut Nurjannah, Peta yang menggunakan Google itu tidak bisa dijadikan acuan, Karena koordinat juga bisa dikeluarkan, tetapi, apakah koordinat itu sudah betul, sudah diverikasi, istilah kami adalah, apakah sudah dikoreksi secara geometik, dari keadaan keadaan sebenarnya dipermukaan bumi, itu belum tentu, Karena ada acuannya, kalau untuk menghasilkan peta yang skala 1 banding 10.000, 1 cm ditekan sama 100 kenyataannya di lapangan, itu harus kita menunjuk beberapa titik, Refrensentatif,   untuk menegakkan citranya atau photo satelitnya, Dengan ketinggian beberapa puluh kilometer bisa memotret secara keseluruhan areal pertambakan di Kaltara, ada yang tiap 16 sehari sekali dan ada juga 32 hari,” urainya.

Selain itu, dosen Unhas ini juga mengatakan bahwa, Negara saat ini telah menyiapkan peta gratis yang 1 banding 250.000 dan semua bisa mengkonsumsi itu, namun itu efektif untuk melihat kawasan hutan, yang pohon-pohonnya bisa mencapai diameter 20 sampai 100 meter perpohon,” jelas Nurjannah.

birukuning

Add comment