Birukuning

Environtman/Women: Pahlawan Bawah Kolong?

IMG 20171113 WA0014 - Environtman/Women: Pahlawan Bawah Kolong?

Oleh Rendy Aditya Paraja 

Smallville adalah medan perjuangan Superman. Gotham City adalah medan perjuangan Batman, Stark Industries adalah miliknya Tony Stark si Ironman, medan perjuangannya di New York City. Dibelahan Asia, ada Son go Ku, Ultraman, dan Naruto. Mereka adalah pelindung  ada di kota dan di desa dengan ciri khas kekuatan masing-masing.  Mereka adalah orang sakti, pahlawan orang-orang sekitarnya. Mereka benar-benar pahlawan dalam dunia fiksi. Disaksikan seluruh dunia non fiksi lewat buku atau layar lebar seperti bioskop maupun layar kaca televisi.

Itu dunia fiksi, kalau non fiksi, Aldian kresna dalam “Sejarah Panjang Mataram” mengisahkan perjuangan Pangeran Diponegoro  seseorang yang menolak ketidakadilan dan campur tangan Hindia-Belanda, lewat gerilya harus berjuang ditanah mataram. Laksamana Malahayati, dan jenderal sudirman juga sama.  Kekuatan perang gerilyanya melawan segala kolonialisme yang menindas. Mereka ada, dan gugur sebagai pahlawan bangsa.
Baik  dunia non fiksi dan fiksi sudah pasti berbeda. Tapi ada letak kesamaannya. Yakni mereka yang disebut-sebut itu medan perjuangnya juga sama, dimana lagi kalau bukan di bumi. Ada musuh dilawan, ada penindasan diperangi, mereka punya kekuatan, meski darah tumpah dimana-mana, kota dan desa dibuat seperti kunyahan kerupuk. Semua itu dilakukan demi sebuah kebebasan yang merdeka.

Tapi sekarang situasi sudah berbeda. Meniru model perjuangan pahlawan yang disebut-sebut itu sudah bukan zaman dan sangat tidak relevan apabila diletakkan di rumah-rumah dengan  kolong -kolong daerah pesisir. Rasanya mustahil. Bagaimana mungkin tokoh Ultraman setinggi zaman Nabi Adam itu berdiri tegak di rumah padat penduduk sekitar pesisir? bisa remuk rumah-rumah warga yang beratap seng itu. Apalagi Naruto dengan cakra nya yang super, serta kekuatan superman, Batman, bikin tambah puing-puing semakin menumpuk.  Ironman pun rasanya mustahil, kecuali ia  bersedia ubah nama ubah diri  meniadi environman/women?

Siapa itu environtman/women? mengapa harus  environtman/women? Mengapa environtman/women sangat urgen dibutuhkan dipesisir kolong bawah kolong?  Kalau dulu,  memang benar meniru semangat pahlawan dengan gerilya baik modal senjata, teknologi yang diperolehnya dipeergunakan mengusir musuh-musuh yang nyatanya mengancam kehidupan orang banyak. Itu masa revolusi,  Kalau sekarang situasinya berbeda. Substansi pun juga demikian. Oleh karena teknologi sudah berkembang, menawarkan produk dan kecanggihan masing-masing. Maka praktis manusia sedia mengkonsumsinya. Mulai konsumsi rumah tangga, hingga konsumsi teknologi informasi.
Tetapi , konsumsi kian hari semakin mendidik orang cenderung menjadi orang tulennya konsumen membuatnya sering tidak mampu atau kesulitan mengontrol sisa-sisa konsumsinya. Kalau dibuang didarat, masih sanggup para petugas sampah semesta menyelesaikan.   Apabila di buang keluar atau dibawah kolong-kolong pesisir, saya dan petugas tersebut berpikir  dua kali.  Soalnya, kondisi rumah-rumah yang punya kolong sudah ditumpuki plastik-plastik, kertas, botol, kaca, sampai produk sensitif. Menumpuk begitu saja. Sebuah  kesan kotor dan menimbulkan wajah kumuh.  Padahal bawah kolong pesisir  dahulu tidak demikian.

Maka diperlukanlah seorang Environtman/women.  Jiwa kepedulian terhadap lingkungan. tidak cukup didarat, dipesisir dekat laut juga diperlukan. Atau medan perjuangan lain selama menyangkut persoalan lingkungan. Setidaknya menghindari kemungkinan sumber panyakit. Orang-orang yang disebut dalam bukunya Rayani Sriwidodo dan Steve Kamajaya “Para Penemu yang mengubah Dunia”  adalah penemu dizamannya. Namun  terkhusus soal lingkungan, masih menepi. Sepi oleh para peneliti yang sedia terjun dibawah kolong.
Namun siapa sangka, sang waktu berbicara orang Indonesia berbondong-bondong melihat kelincahan kapal amfibi menyeruput sampah-sampah kolong demi kolong. Buatan 100% orang Indonesia setelah ketenaran aplikasi Go-Jek, Traveloka kemudian Grab. Atau pesawat terbang sedang menebar pupuk menetralisir air andaikata limbah industri tumpah kesungai maupun kelaut. Tetapi segera percikan botol minuman terasa jatuh dari atas dan terciprat ke wajah seorang pemuda yang sedang lelap tidur dibawah kolong. Ia terbangun dan tahu-tahu itu hanyalah mimpi.

Karena air sedang pasang dan sampah mengapung. Segera ia bangkit, kedarat membawa sepeda motor dan sepanjang jalan dipikirnya berulang-ulang melintasi pamflet bersih, aman, Indah, sehat, sejahtera (BAISS) kemudian menemukan pamflet berikutnya tentang pemberantasasn wilayah kumuh. Siapa sasarannya dan kapan waktunya, Ia belum tahu.

birukuning

Add comment