Birukuning

NU PASTI BUBAR TAHUN 2025…???

13227763 10209748264165581 8478980856409937844 o - NU PASTI BUBAR TAHUN 2025...???
Oleh Sonny Majid


“NU pasti bubar tahun 2025” wacana ini selalu menjadi pembahasan. Sebagian ada yang murung, mengerenyitkan dahi sambil berfikir, apa benar begitu? Tetapi ada yang senyum-senyum ketika wacana ini diperbincangkan. Bagi mereka yang mengerenyitkan dahi tidak salah? Mereka selalu menggunakan pisau analisis bahwa Indonesia hari ini tengah terjadi perang. Perang ideologi, perang ekonomi, dan perang informasi. Ideologi dan ekonomi, sebenarnya ini bersambungan. Karena dari seluruh rekam jejak perseteruan antar-negara, biasanya penguasaan negara atas negara yang lain selalu membawa agenda ideologi dan ekonomi, meski perangnya menggunakan senjata. Dalam konteks Indonesia hari ini, ideologi yang bersebaran kian beragam, meski yang memproduksi dua kutub besar yang kita sepakati disebut “tekanan dari Barat” dan “tekanan dari Timur.” Tekanan dari Barat menghasilkan ideologi-ideologi sekuler antara lain; liberalisme, neoliberalisme dan kiri radikal. Kesemuanya ini mengusung nilai-nilai sekularisme, individualisme, liberalisme dan pragmatisme. Tekanan dari Timur menghasilkan ideologi-ideologi yang berbasis agama, seperti; Islam transnasional, baik itu Wahabi, Ikhwanul Muslimin, agama dan aliran agama baru lainnya. Nilai-nilai yang diusung tak lain adalah fundamentalisme dan formalisasi agama. Jika melihat usungan nilai-nilai tekanan dari Barat tadi, maka dalam di Indonesia, penguasaan difokuskan pada kegiatan ekonomi. Jangan heran, jika hari ini Indonesia dipenuhi modal asing yang menguasai sektor-sektor produksi strategis. Lantas dimana peran NU; yakni ikut menjaga kedaulatan ekonomi negara. Bagi para produsen ideologi tekanan dari Barat, keberadaan NU sangat menganggu. Kenapa, karena NU sampai hari ini masih mempertahankan ideologi Pancasila, UUD 45 yang notabene mengangkat azas kekeluargaan dalam kegiatan perekonomian di Indonesia. Bagaimana dengan tekanan dari Timur? Sama halnya NU dianggap sebagai ancaman, untuk itu harus dihancurkan. Karena NU masih menjaga nilai kebangsaan dan Islam yang damai, toleran, tak lupa menjaga Indonesia dalam bingkai NKRI. Kelompok fundamentalis ingin mengubah bentuk negara berikut ideologinya. Disini lagi-lagi NU berhadapan langsung. Skenario kelompok ini sekarang memanfaatkan teknologi informasi, dengan menyebarkan konten-konten yang isinya menghina bahkan memfitnah para ulama, terutama ulama-ulama NU. Targetnya tak lain memecah – menjauhkan warga NU dengan para ulamanya. Kelompok ini sebelumnya juga menjual isu bid’ah, dan kafir. Jika melihat efek dobrak dua tekanan tadi, maka NU disini berkepentingan tak ingin Indonesia terpecah belah. “Marilah Anda semua dan segenap pengikut Anda dari golongan para fakir miskin, hartawan, rakyat jelata dan orang-orang kuat, berbondong-bondong masuk jam’iyyah yang diberinama Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.Masuklah dengan penuh kecintaan, kasih sayang, rukun, bersatu dan dengan ikatan jiwa raga.” Inilah sikap dasar NU, yang dikenal dengan Qonun Asasi. Bagaimana dengan pihak yang sebatas senyum-senyum merespon wacana NU akan bubar pada 2025? Rata-rata mereka menjawab, bahwa yang terjadi pada NU hari ini adalah ujian yang harus dilalui jelang satu abad NU. Ya, NU tak lama lagi berumur satu abad. Ujian bagi mereka yang senyum-senyum adalah sebuah proses yang kudu dilalui sebagai tanda-tanda sebuah kejayaan. Karena dengan ujian tersebut, maka kekuatan NU akan dipersatukan. Jika meminjam istilah fase organisasi, NU hari ini memasuki masa mature. Artinya, jika mampu melaluinya, maka NU memasuki satu abadnya kembali pada fase infant, yang artinya NU akan berganti generasi, ya sekali lagi ini berarti generasi baru NU. “Jadi bukan kehancuran NU, tapi kebangkitan baru NU,” begitu ucap para pihak yang senyum-senyum. Setelah mendengar pengakuan mereka-mereka ini (yang mengerenyitkan dahi dan senyum-senyum) akhirnya saya memilih ikut yang senyum-senyum. Bahwa NU tidak akan bubar, tetapi menghadapi kebangkitan baru- reinkarnasi. Diam sejenak, saya kembali teringat kata-kata Wasekjen PBNU Hery Haryanto Azumi. Ia mengatakan, bahwa NU itu sangat dinamis dan terbuka, tetapi dia berani menggaransi meski dinamis dan terbuka, NU cara bacanya bisa integral. Karena terjadi kombinasi empat kuadran (saya menyebutnya pilar), yakni nasab – kesilsilahan, sanad –keilmuan, struktur-organisasi dan kultur- warganya. Integrasi empat pilar inilah yang akan saling menguatkan. Keempatnya adalah sumber kekuatan NU, dengan kata kuncinya “Jam’iyyah.” Kita tidak boleh meninggalkan konsep dasar itu, Hery katakan kepada saya. Penggabungan empat elemen itu harus tetap dijaga untuk menghadapi perubahan zaman yang kian dinamis – terbuka. Inilah yang kata dia, sebagai cara membaca integral NU abad kedua. Dengan tetap memposisikan permusyawaratan ulama sebagai pengikatnya. Lagi-lagi, ulama disini sebagai owner sesuai Khittah 1926, sebagaimana ditegaskan kembali oleh Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin.

birukuning

Add comment