Birukuning

“KEMANA SEHARUSNYA CINTA ITU?”

j - “KEMANA SEHARUSNYA CINTA ITU?”

Oleh : Suriadi (bobong)

Berbicara tentang cinta tentu saja akan membuat sebagian dari kita merasa bahagia, merasa kecewa, merasa menyesal, dan sebagian mencoba bernostalgia mengingat kembali masa-masa bahagia bercinta di usia muda. Cinta telah menjadi sebuah problematika, baik itu di kaum muda maupun di kaum tua. Ada yang bahagia karena cinta, mengenang dengan air mata, melewatinya dengan bersimbah darah, ada juga yang berbuat dosa atas nama cinta. Apakah sandaran cinta ini sudah benar ? Apakah arti cinta yang selama ini kita pahami telah benar ? Ataukah cinta ini telah tersesat ? Ataukah selama ini kita telah salah dalam memahami cinta, hingga kita lupa bahwa nafsu bisa berkedok cinta.

Cinta bukanlah hal yang mudah untuk dipahami. Karena selama ini pengertian cinta didasarkan dari pengalaman pribadi. Jadi masing-masing individu, selalu memberikan definisi cinta menurut histori yang di alaminya. Sebenarnya perlu di pahami disini adalah “Siapakah yang patut untuk di cinta?”. Puisi sufi ini mungkin bisa sedikit membuka celah dan menyingkap sedikit tabir kemana seharusnya arah cinta itu.

Ibarahim bin Azham
Terjaga tengah malam dari tidurnya yang damai
Dan melihat, dibawah sorotan terang bulan dikamarnya
Dalam suasana menyejukkan seperti bunga lili yang segar-merekah
Seorang malaikat menulis dibuku catatanya dengan tinta emas
Kedamaian yang meluap membuat Ibrahim bin Azham berani bertanya kepada sosok dikamar itu
“Apa yang kamu tulis?”
Sosok itu mengangkat kepalanya, dan dengan tatapan yang menyenangkan, menjawab.
“Orang-orang yang mencintai Tuhan”
“Apakah aku termasuk?” Tanya Ibrahim bin Azham.
“Sayang, tidak,” jawab sang malaikat. Dengan suara yang merendah, tetapi tetap bergembira.
Ibrahim memohon, “kalau begitu, aku mohon kepadamu, catatlah aku sebagai orang yang mencintai manusia.”
Sang malaikat mencatatnya, lalu menghilang.
Malam berikutnya dia datang lagi dengan kecemerlangan yang menyilaukan
Dan menunjukkan daftar orang yang mencintai Tuhan.
Dan duhai! Nama Ibrahim bin Azham ada diurutan pertama
Berdasarkan puisi sufi diatas, pastilah sebagian dari kita  telah merasa benar bahwa mencintai sesama manusia itu adalah cinta yang benar. Tetapi apakah mencintai sesama manusia itu harus direalisasikan dengan cara yang kebanyakan kaum muda sekarang lakukan?. Apakah benar itu adalah cinta, jika membawa kepada dosa?.

Pacaran adalah hal yang sudah tidak asing lagi dikalangan kaum muda sekarang. Ia nya seolah menjadi rutinitas, ia seolah menjadi candu, sekaligus siklus di kalangan kaum muda. Hanya bermodalkan kata “sayang, rindu, cinta, serta setia” maka pipi, bibir, dan dada menjadi lahapan manusia yang di kuasai nafsu membabi buta. Bahkan, seorang wanita bisa tergoyah iman nya hanya karena kata-kata mutiara, terangkai lewat dorongan cinta katanya, yang rupanya, itu adalah dorongan nafsu semata. Hingga hal berharga itu sudah hilang nilainya.

“Haaiiii… Wanita! Jangan perlihatkan sebutir mutiara kepada seseorang yang tidak akan memahami nilainya”

Perempuan haruslah memahami posisinya sesuai kodrat dan fitrahnya. Pahamilah bahwa manusia adalah lumbung kemaksiatan (Neraka) dan lumbung kenikmatan (Surga), maka posisikan dirimu sebagaimana seharusnya. Gunakanlah akal itu untuk menimbang segala sesuatu yang akan dilakukan. Apakah pantas jika bibir itu di tukar dengan kata sayang? Apakah pantas tubuh itu di tukar dengan kata cinta yang justru mengarah kepada dosa?

“Perempuan itu harus cerdas, karena dunia ini terlalu keras jikalau hanya menghandalkan kecantikan”

Kenapa cinta yang kita rasa benar itu membawa kita kepada dosa?, karena selama ini mata hati kita buta dalam melihat bahwa Yang Tercinta selalu bersama kita, kebutaan hati membuat kita tidak sadar bahwa kesanalah seharusnya cinta itu. Ingatlah, TUHAN TIDAK TERTIDUR. Tuhan telah mengaruniai kita semua dengan berkah yang begitu besar berupa “WAKTU”. Waktu untuk belajar, merenung, dan merindukan kebenaran, untuk Al-Haqq, untuk Allah SWT. Bukan  untuk berpacaran, berbuat maksiat, dan bukan untuk mengumpul dosa sebanyak-banyaknya.

Hati manusia di ibaratkan seperti sebuah rumah, ada rumah Raja yang didalamnya penuh harta kekayaan dan ada rumah si miskin yang kosong tidak memiliki apa-apa. Rumah seorang Raja yang penuh penjaga akan membuat pencuri berfikir berulang-ulang kali untuk mencuri didalamnya, maka seperti itulah Hati seorang muslim yang telah dipenuhi dengan perlindungan-Nya, penuh dengan kecintaan-Nya, dan senantiasa dalam penjagaan-Nya. Setan mana yang berani memasuki hati yang kaya ini? Meskipun demikian, setan adalah makhluk yang tidak akan pernah berhenti untuk bisa menyesatkan siapapun termasuk hati yang kaya ini. Namun kuatnya penjagaan dan pertahanan hati yang kaya ini akan membuat berbagai rintangan untuk menghadang setan masuk kedalam hati. Lalu seperti apakah rumah si miskin itu? Ia mengibaratkan hati yang kosong dari kebajikan dan cinta-Nya, yaitu hati orang-orang kafir dan munafik, yang sudah dikuasai  setan dan hati itu menjadi tempat tinggal mereka. Maka, tidak ada lagi dorongan untuk mencuri dirumah itu karena semua isinya telah habis di kuasai setan. Inilah hati yang di kuasai nafsu amarah (nafsu yang mengajak kepada keburukan). Dan nafsu inilah yang mengendarai cinta  yang selama ini kita rasakan. Dan janganlah kita tergolong orang kafir dan munafik karena salah memahami cinta yang selama ini ia adalah nafsu semata.

“Cinta manusia itu bisa dibagi menjadi dua jenis, “cinta sejati” atau cinta kepada Allah dan “cinta turunan” atau cinta kepada hal selain-Nya. Akan tetapi, apabila di pelajari lebih dekat, seseorang akan melihat bahwa semua cinta, sesungguhnya, adalah cinta kepada Allah karena segala hal yang eksis di muka bumi ini adalah refleksi atau bayangan-Nya. Perbedaan diantara kedua jenis cinta itu adalah bahwa sebagian orang tahu hanya Tuhanlah yang sesungguhnya ada dan mereka pun mengarahkan cinta kepada-Nya saja, sementara yang lain percaya adanya kemandirian eksistensi berbagai objek kebutuhan dan membelokkan cinta mereka pada objek-objek itu”(Wiliiam C. Chittick). Semoga kutipan ini bisa menjadi penerang kemana seharusnya cinta di arahkan. Jikalaupun ada diantara kita yang belum mampu mengarahkan cinta kepada-Nya dan belum menemukan jalannya. Maka, marilah kita mencintai sesama manusia dengan benar, dan berdoa, semoga kisah cinta kita kepada sesama manusia seperti kisah Ibrahim bin Azham. Mencintai sesama manusia bukanlah dengan menjalin sebuah hubungan (pacaran) yang justru itu membawa kepada dosa. Mencintai sesama manusia bisa di realisasikan dengan berbagai cara, seperti saling tolong menolong sesama manusia karena rasa cinta kepada Allah, saling menjalin silaturahim dan sebagainya, dan semua itu di dasari karena Allah SWT. Itu adalah bentuk Cinta yang sesungguhnya.

Semoga kita bisa lebih meningkatkan zikir atau mengingat Allah, karena zikir adalah cara untuk menumbuhkan cinta kepada Allah SWT. Dengan zikir inilah, hubungan dengan Allah menjadi semakin dekat dan berkembang menjadi CINTA, cinta yang benar hanya kepada-Nya. Amin
‘Dia mencintai mereka, dan mereka mencintai-Nya’. Kehidupan mereka di dunia ini berubah menjadi sebuah kisah tentang pecinta dan yang tercinta.
Inilah pentingnya cinta yang benar-benar cinta yang Haqq.

“Semoga sedikit tulisan ini bisa meluruskan jalan sebuah rasa cinta yang sesungguhnya dan mengarahkan cinta kepada yang Al-Haqq yaitu Allah SWT. Amin. Jika terdapat kebenaran didalam tulisan ini maka itu datangnya dari Allah yang Maha Benar dan jika banyak kekurangan dan kesalahan maka itu datangnya dari penulis selaku hambah Allah yang lemah.

Wallahul muwaffieq ila aqwamith thorieq”
Catatan Penulis : Pesan Sang Sahabat (Buku)

Dari sebuah embrio, yang zat tumbuhya datang dari darah
Jadilah seorang bayi peminum susu
Lalu, seorang anak pengunyah makanan padat
Lalu, seorang pencari kebijakan
Lalu, seorang pemburu dalam permainan yang lebih ghaib
(Syaikh Rumi)

birukuning

Add comment