Birukuning

CINTA YANG SALAH

danbo handmade by sansandh d4slikn - CINTA YANG SALAH
OLEH
 R.T.P
Tetesan hujan dipagi hari membuatku tidak tahan untuk bangun dari tempat tidurku yang sangat nyaman ini. Tidak ada alasan bagiku untuk menolak keputusan yang telah aku ambil sendiri. Aku mungkin telah banyak melakukan kesalahan, namun aku tidak mau mendapat hukuman seperti ini akibat ulahku sendiri. Sekarang aku terjebak kehidupan yang sangat tidak membahagiakan, itu karena kesalahanku sendiri, aku tidak bisa menyalahkan siapapun dalam keputusan ini, khususnya orang tuaku yang sudah menyayangi dan mencintaiku sepenuh hati.

“Sayang, sarapan abang sudah siap belum, abang sebentar lagi pergi kerja.” Inilah setiap pagi yang harus aku lalui, hanya mendengar perintah dari seorang suami yang tidak pernah menyayangiku seperti janjinya dihadapan bapak dan penghulu saat itu.

“Makan saja roti tawar yang ada di atas meja itu, aku sedang tidak enak badan.” Jawabku asal-asalan. Sakit rasanya hati ini terperangkap dalam sangkar yang tidak mungkin ku temui kunci dari gembok ini. Aku hanya bisa melampiaskan kesepianku dengan mencuri-curi waktu mengajar privat.

Aku Lenia, seorang gadis yang telah salah memilih langkah untuk masa depanku sendiri, dahulu aku adalah seorang anak yang cukup cerdas dan mampu memtuskan sesuatu dengan bijak dan tanpa pernah mau dengan paksaan. Aku terlahir dari keluarga yang biasa saja dan tidak kaya, tetapi berkecukupan. Alhamdulillah karena aku mampu hidup hingga saat ini. Aku juga merupakan seorang sarjana pendidikan matematika lulusan universitas negeri di kota kelahiranku. Ada niat untuk melanjutkan pendidikanku kejenjang yang lebih tinggi namun karena beberapa alasan aku berubah fikiran.

Usiaku sekarang 29 tahun, usia yang cukup matang untuk menjadi seorang istri dan ibu, namun aku belum merasakan kebahagian seperti yang aku dambakan saat aku masih gadis dan sebelum menjadi seorang nyonya. Hari-hari yang aku lalui sangatlah hambar dan tidak berkesan sama sekali. Sungguh menyedihkan.

***

“Sayang sakit kah? Bagaimana kalau kita ke dokter saja pagi ini? Abang akan izin dari kantor untuk menemanimu berobat sayang.” Suamiku sangat perhatian padaku, dia selalu memenuhi kebutuhanku dan apa yang aku inginkan, meskipun aku tidak sangat butuh dengan barang yang aku katakan padanya, dia selalu memberiku uang untuk membeli barang yang aku ceritakan padanya. Namun aku sangat tidak bahagia dengan pernikahanku ini.

“Tidak Bang, mungkin Leni hanya kecapekan saja. Abang buruan pergi ke kantor kasian nanti terlambat kena peringatan loh.” Aku menyembunyikan kesedihanku dari wajahnya yang sudah terlihat keriput. Yah aku dan suamiku berbeda usia yang terpaut jauh yaitu 12 tahun.

“Baiklah kalau begitu sayang, abang pergi kerja dulu ya, segera hubungi abang kalau kamu ada masalah. Abang sayang Leni.” Suamiku mengecup keningku yang masih bau karena aku baru saja bangun tidur dan belum mandi. Aku melihatnya hingga ia sudah tidak terlihat lagi dan aku mendengar suara motornya berlalu. Aku sangat sedih dengan pernikahanku yang seperti ini, pernikahanku seperti tidak berujung, pernikahan yang tidak jelas dan tidak membuatku bahagia.

***

Tarakan, 12 November 2012

“Kamu yakin menikah dengan pria itu? Apakah kamu sudah mengetahui latar belakangnya? Apakah kamu yakin Leni?” Aldi mengusap air mata yang begitu deras mengalir dipipinya. “Iya Al, aku sangat yakin dengan keputusan ini, aku mencintainya lebih dari apapun. Kamu tau yang sangat membuatku yakin untuk menikah dengannya? Karena aku yakin jika aku menikah dengannya aku akan bahagia karena semua kriteria suamiku ada pada dirinya. Dia sudah pegawai negeri dan memiliki rumah, usianya sudah mapan untuk menikah. Aku juga kenal dengannya karena aku sudah pernah bertemu di masa lalu saat aku masih bersekolah.” Aku mengatakan hal yang menurut logikaku benar kepada Aldi.

“Apa orang tuamu menyetujui keputusanmu? Coba kamu fikirkan dahulu. Dimana janjimu yang dulu, kamu bilang kalau kamu akan menikah denganku dan kita akan hidup bahagia, kita akan membangun rumah tangga dan rumah sederhana kita.” Aldi memegang tanganku berharap aku merubah keputusan yang telah aku putuskan.

“Sudahlah Aldi, aku sudah memilih keputusan ini dengan matang, apabila kita menikah kita tidak akan bahagia, sekarang kamu lihat kamu seorang honorer di salah satu instansi pemerintah, gajimu tentu tidak cukup untuk kita. Kamu juga belum dewasa karena usiamu lebih muda dariku, sampai kapan kita bisa bertahan dengan rumah tangga yang seperti itu, kamu terlalu muda dan tidak mapan untukku. Aku ingin kamu hormati keputusanku. Aku akan undang kamu dipernikahanku.” Aku meninggalkan Aldi yang sedang merenung terdiam di salah satu bangku taman dikotaku ini.

“Baiklah Leni aku akan merestuimu.”

***

Aku menjalani perkenalan dengan Dandi selama sebulan, Dandi sering mengajakku untuk jalan di waktu luangku karena aku sibuk dengan tugas akhirku dan sebal dengan pembimbingku yang super sibuk. Aku merasa bahagia menjalani hubungan ini, aku merasa mendapatkan sosok kakak laki-laki didalam diri Dandi. Ia seorang pria yang sopan dan terlihat sangat menyayangiku. Selalu menyemangatiku dalam susah dan selalu menasehatiku apabila aku mulai menyerah dengan skripsiku. Aku merasa aku lebih bahagia dengan Dandi dibandingkan dengan Aldi, karena Aldi tidak pernah memiliki waktu untukku, ia hanya menelponku setiap malam disaat aku sudah mau tidur, aku tidak pernah menanyakan alasannya.

“Sayang, kamu mau kan menikah dengan abang? Janji abang setelah kita menikah kamu pasti akan hidup bahagia dengan abang. Kamu mau kan?” Dandi memberiku sebuah cincin emas putih sebagai tanda jika ia serius denganku. Aku hanya tersenyum dan mengiyakan pertanyaannya.

“Terima kasih Sayang.” Dandi memelukku dan mencium keningku karena bahagia. Saat itu aku juga sangat bahagia karena telah menemukan sosok yang aku harapkan.

“Tapi Bang aku mau kita menikah setelah setahun aku lulus kuliah, gimana?’

“Tidak masalah sayang, karena abang sayang Leni.” Dandi menerima persyaratan yang aku ajukan padanya.

***

Tarakan, 15 Mei 2013

“Selamat ya anak Ibu sudah sah menjadi sarjana pendidikan.” Ibu menciumku dan memberikan selamat.

“Selamat anakku, kamu telah menyelesaikan sarjanamu tanpa cacat sedikitpun. Ayah bahagia.” Ayah juga menciumku karena bahagia anak-anaknya mampu menyelesaikan pendidikan.

“Selamat ya sayang, abang bahagia melihatmu memakai toga ini.” Dandi memberiku sebuah boneka beruang memakai toga, oh so sweet.

“Terima kasih Ayah Ibu ini semua berkat kalian.” Aku memeluk ayah dan ibu.

Kami semua akhirnya pulang karena merasa lelah dengan acara dikampus hari ini. Aku sangat bahagia di hari wisudaku ini.

***

“Sayang jadi kapan kita melaksanakan pernikahan ini?” Dandi menagih janji yang selama ini telah aku janjikan.

“Gak tau sayang, masa langsung nikah, kan kamu belum melamarku.” Aku menatapnya dengan tatapan menuduh.

“Eh iya abang lupa, kan dilamar dulu ya. Hahahaha.”

“Iya lah kan aku bukan barang abang.”

“Okelah ayo kita bicarakan hal ini dengan ayah dan ibumu.” Dandi tersenyum padaku.

***

Tarakan, 14 Agustus 2014.

Hatiku berdebar-debar hari ini, hal ini disebabkan karena hari ini adalah hari pertunangan dan lamaran buatku, sebentar lagi aku akan melepas masa lajangku dan berubah status dari nona menjadi nyonya. Perasaan sedih karena artinya sebentar lagi aku akan melepas masa lajangku dan berpisah dengan orang tuaku karena harus ikut dengan suami sementara perasaan bahagia karena sebentar lagi aku akan memasuki kehidupan sebagai seorang istri dan tentunya akan menjadi seorang ibu kelak.

“Kami semua datang ke kediaman Bapak Tyo bermaksud untuk melamar putri bapak untuk anak laki-laki kami. Dandi Lesmana. Terlihat wajah Dandi tersenyum bahagia kepadaku. “Saya selaku Ayah dari Lenia mewakili segenap keputusan semua anggota keluarga menerima lamaran anda untuk melamar putri kami. Tentunya kita dari kedua belah pihak menginginkan pernikahan anak-anak kita sakinah, mawadah, warohmah. Amin.” Ayah mengakhiri permintaan lamaran dari keluarga Dandi.

“Baiklah segera kita tentukan tanggal dan hari pernikahan untuk putra-putri kita dan akan kita bicarakan selanjutnya. Bagaimana Dandi apakah kamu siap?” Ibu Dandi menatap Dandi dengan tatapan bahagia. “Dandi akan bicarakan dengan Ayah, Ibu, serta keluarga dari Lenia untuk pernikahan kami.”

“Baiklah kalau begitu acara pertunangan dan lamaran ini kita akhiri, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Ayah, Ibu, dan seluruh keluarga yang datang kemudian menikmati hidangan yang telah disediakan.

***

Tarakan, 25 Agustus 2014

“Lenia….Lenia…. mari kesini, coba kau lihat ini Lenia ada kabar tidak sedap untukmu sobat.” Yanti, teman dekatku saat SMA dan kuliah memberitahuku tentang sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Seketika badan ini terasa lemas dan tidak tahu harus berbuat apa. Aku terlalu tidak percaya dengan informasi yang aku ketahui. Aku berharap ini salah dan tidak benar, berharap ini adalah sesuatu yang orang buat karena ketidaksukaannya dengan Dandi.

“Kamu yakin? Kamu akan meneruskan pernikahanmu Lenia? Coba kamu bayangkan apa yang akan terjadi pada pernikahanmu dimasa depan. Lihat Lenia ini sudah jelas, kamu pasti tidak akan bahagia Lenia, tidak akan!” Yanti memelukku yang hanya terdiam di tempat tidur.

Aku tidak tahu harus bagaimana dengan kejadian ini semua. Selama aku menjalin hubungan dengan Dandi dan yang lainnya aku tidak pernah berbuat hal-hal yang seronok dan Dandi sangat menjagaku akan hal itu, ia selalu menjagaku agar tidak terjerumus kedalam hal-hal negatif, sehingga aku sangat yakin jika menikah dengannya aku akan mendapatkan kebahagiaan lahir dan batin. Namun, apa yang aku dapatkan hari ini sungguh menyakitkan. Pernikahanku masih 3 hari lagi, apakah aku harus membatalkan pernikahanku sementara semua undangan sudah aku sebarkan, termasuk kepada Aldi. Makanan sudah aku pesan, semua sudah aku persiapkan dengan matang. Tuhan berilah aku petunjuk.

“Lenia aku mau menelpon Hakim dulu, biasa kamu akan tenang jika Hakim menasehatimu, kamu tenang ya! Jangan menangis terus Lenia. Ini tidak akan menyelesaikan masalah.” Aku hanya menganggukan kepalaku kepada Yanti.

“Hallo Hakim, kamu dimana? Kamu bisa ke rumah Lenia sekarang nggak? Lenia sangat butuh semangat dari kita, dia sangat syok sekarang.” Yanti kemudian memasukkan handphonen cantiknya ke dalam tas.

“Yanti, kamu dapat info itu darimana? Aku sangat tidak percaya dengan informasi yang kamu kasih ke aku barusan. Aku sangat tidak percaya. Dandi yang aku kenal setahun ini baik dan teramat baik, aku tidak pernah menemukan kabar tentang dia seburuk kabar yang kamu bawa ini. Kalau ini tidak benar tentu ini akan menjadi fitnah.” Aku tidak habis fikir dengan semua ini. Aku tidak tau harus percaya siapa.

“Assalamualaikum. Lenia……. Ini Hakim.” Terdengar suara lelaki mengetuk pintu dari luar. Segera Yanti keluar kamar dan membuka pintu untuk Hakim. Kami akhirnya mengobrol di dalam kamarku.

“Ada apa sih manggil aku kesini. Kamu kenapa lagi sih say? Kan udah mau nikah juga kenapa lagi sih?” Hakim mengomel padaku.

“Ini loh coba liat!” Yanti memberikan ponselnya pada Hakim.

“Apaaaaaaaa? Yang bener aja nih… ini beneran Dandi apa bukan sih? Ih masa sih dia kayak gini?” Hakim tidak berhenti melihat ponsel Yanti.

“Tapi lebih baik kalau kita cari tahu sendiri ya kan Kim?”

“Bener tuh kita cari tahu, sebelum Lenia menyesal kemudian hari. Kamu mau kami menyelidikinya kan say?” Hakim mengangkat wajahku yang menunduk sejak tadi.

“Terserah aja. Tapi tidak mungkin aku akan dapat ikut dengan kalian, karena aku sedang dalam masa menunggu pernikahan, aku tidak mungkin bisa keluar rumah kan.”

“Tapi Len, kalau kau gak ikut, nanti kau sangka kita mengarang cerita lagi. Gimana sih kau nih, ah malas aku.” Omel Hakim sambil memakan cemilan dimeja belajarku.

“Sudahlah aku sudah memutuskan aku akan tetap menikah dengan Dandi, menurutku Dandi tidak seperti yang kalian fikirkan, bukti yang kalian dapatkan itu tidak akurat, tidak jelas sumbernya, jadi tolong jangan sebar-sebar fitnah. Aku sangat berterima kasih dengan perhatian kalian dengan informasi ini.” Aku bingung harus bicara apalagi dengan dua makhluk yang sangat menyayangiku ini.

“Len, aku dan Hakim sangat menyayangimu, kami tidak ingin kau sedih dan masa depanmu tidak bahagia, kami takut nanti pernikahanmu tidak bahagia dan kamu bercerai. Astagfirullah aladzim.” Yanti memelukku yang menangis.

“Udahlah kalau Lenia maunya begini, kita bisa apa Len, kita cuma sahabatmu yang ingin kamu bahagia nantinya, kamu tuh cantik bisa dapat yang lebih lebih dan lebih dari Dandi.” Hakim kembali mengunyah cemilan dan mengomeliku.

***

Yanti dan Hakim sudah kembali kerumah mereka masing-masing, tinggalah aku di kamar mungil ini seorang diri dan terus memikirkan tentang informasi yang Yanti berikan padaku tadi. Aku tidak tahu harus berbuat apa, fikiranku buntu dan aku sangat malu jika pernikahan ini batal, aku tidak mungkin membatalkan pernikahan yang hingga saat ini sudah 95% siap. Dandi dan aku masih sering berkomunikasi menjelang hari pernikahan kami, aku tidak menemukan hal yang aneh dalam dirinya meskipun diluar sana ada beberapa teman kantornya membicarakan hal aneh tentang dirinya namun aku menutup telinga dan mataku akan hal itu. Bagiku Dandi pria yang mapan dan siap untuk menikah, bersamaku juga dia rajin melaksanakan sholat 5 waktu sehingga besar kepercayaanku pada Dandi jika ia tidak seperti yang bapak-bapak dikantornya bicarakan.

***

Tarakan, 28 Agustus 2014

Akhirnya tibalah hari pernikahanku, semua ruangan telah dihias dengan nuansa berwarna merah jambu, warna kesukaanku. Hatiku masih bimbang dengan keputusanku ini apa aku harus melanjutkan atau membatalkan pernikahan ini, aku tidak tahu harus bagaimana.

“Lenia pengantin laki-laki dan penghulu serta saksi telah datang, cepat keluar Nak.” Ibu memanggilku untuk segera menemui Dandi dan para undangan yang telah siap.

“Baiklah ijab Kabul akan saya mulai, Nak Dandi tau kan arti dari ijab Kabul? Kamu siap kan untuk mengikhrarkannya?” Ayah menatap Dandi dengan wajah sedih. Ada perasaan berkecamuk dalam diriku mengapa ayah menatap Dandi seperti itu.

“Saya siap Ayah.” Dandi tersenyum pada semua hadirin yang datang.

“Baiklah, Bismillahirohmanirohim, Saya nikahkan dan kawinkan Engkau Dandi Lesmana dengan anak kandungku Lenia Izzatunisa binti Sulistyo dengan mas kawin emas 28 gram dan uang tunai 28 ribu delapan ratus empat belas rupiah.”

“Bismillahirohmanirohim, Saya terima nikah dan kawinnya Lenia Izzatunisa binti Sulistyo dengan mas kawin emas 28 gram dan uang tunai 28 ribu delapan ratus empat belas rupiah.”

“Bagaimana saksi, sah ya. Alhamdulillah.” Bapak penghulu melanjutkannya dengan membaca doa bersama.

“Selamat ya Lenia, akhirnya kamu nikah juga. Semoga kamu bahagia dan tidak menangis di dalam pernikahanmu, aku ikut bahagia untukkmu.” Aldi menyalamiku dan Dandi. Ada sedikit butiran bening dipelupuk matanya. Sejujurnya aku masih cinta padanya, akan tetapi keputusan ini telah aku ambil dan aku tidak mau menatap masa laluku karena masa depanku adalah Dandi.

***

Akhirnya usai sudah acara pernikahanku hari ini, kami memutuskan untuk menginap di rumah orang tuaku karena rumah yang akan aku tempati bersama Dandi jaraknya sangat jauh.

“Sayang, abang mandi dulu ya, gerah dan capek sekali.” Aku hanya menganggukkan kepalaku padanya. Aku masih memikirkan akan hal negatif tentang Dandi. Aku tidak tahu apakah dia seperti yang orang-orang katakan padaku, aku tidak tahu harus berbuat apa, dia sekarang adalah suamiku yang sah, aku masih bingung mengapa wajah ayah sangat sedih di pernikahanku ini, seharusnya wajah bahagia namun ini. Ah sudahlah.

Tiba-tiba ponsel Dandi berbunyi dan terpampang nama si penelpon dalam ponsel itu. “Flowerku……”

***

“Sayang, abang pulang nih, kamu masak apa hari ini?” lamunanku berakhir saat suamiku pulang dan menyapaku.

“Abang sudah pulang? Kok cepat sekali.” Aku bergegas mengambil tasnya dan mencium punggung tangannya.

“Cepat apanya? Kamu aja itu yang daritadi melamun terus sampai tidak tahu kalau aku sudah pulang. Ini sudah jam 14.00 jadi ya sudah pulanglah. Terus kamu ngapain berjam-jam di kamar ngelamun kagak ngapa-ngapain. Kamu gak masakkin aku? Tahu gak sih aku nih lapar Lenia!” Dandi menjatuhkan tubuhnya di atas sofa dan menarikku.

“Sayangku Lenia, kamu sudah tahu kan siapa aku sebenarnya? Aku sangat menyayangimu namun aku tidak bisa mencintaimu, kamu sepertinya menyesal menikah denganku kan sayang? Apakah kau ingin bercerai denganku dan kembali kepada mantanmu yang kere itu?” Dandi mendorongku hingga terjatuh.

Aku hanya bisa menangis menghadapi perlakuan Dandi kepadaku, Dandi terkadang bersikap manis padaku dan sangat sayang padaku, namun terkadang sangat kasar kepadaku bahkan Dandi pun tidak pernah sama sekali membahagiakanku sejak kami menikah. Aku berkecukupan dan sangat berkecukupan hidup dengannya, namun pernikahan ini sangat tidak bahagia bagiku.

“Cepat mandi dan berhias yang cantik, kita akan makan di luar saja hari ini. Kamu pakai baju ungu yang aku belikan malam itu, jangan lupa jilbabnya yang berbunga-bunga serasi dengan bajunya. Aku akan mandi juga, aku lapar Lenia kenapa sih kamu hanya melamun sampai melupakanku seperti ini? Dimana kewajibanmu sebagai istriku?” Dandi mengambil handuk dan meninggalkanku yang menangis.

Aku tidak tahan dengan pernikahan ini, Dandi sangat menuntutku untuk menjadi istri yang sempurna, namun dia sangat tidak mampu menjadi suami yang sempurna untukku, dia sangat tidak sempurna untukku, dia hanya menyempurnakanku dengan materi dan status saja, tidak dengan batinku yang sangat hancur. Aku segera bergegas mandi dan memakai baju pilihan suamiku, segera aku mengetuk kamarnya dan memberitahukan jika aku telah siap.

“Aduh sayang, kamu kok pucat sih, sini aku tambahin blush on. Masa juga kita mau jalan kamu rembes gini sih, kamu kan sudah aku ajari caranya berdandan yang cantik, aku gak mau punya istri jelek, aku nda mau orang liat kita itu pasangan norak dan rembes.” Dandi segera mengajakku ke meja rias dikamarku dan mempoles wajahku sehingga aku melihat sosok cantik di depan cermin. Inilah aku si putri cantik namun terjebak.

Dandi dan aku akhirnya memilih makan di warung Daeng Gassing, Dandi sangat menyukai Cotto Makassar. Kami akhirnya menikmati makan siang di warung itu. Di dalam hati aku kembali memikirkan mengapa aku bisa terjebak dalam pernikahan yang begitu menyiksa seperti ini aku sangat tidak bahagia, bahkan untuk sekedar makan saja Dandi sangat mengatur pakaian dan riasanku. Tanpa kami sadari ada sepasang mata memperhatikan kami, itu adalah Aldi.

Aldi menghampiri kami dan berkata,”Boleh gabung tidak?”. Dandi mempersilahkan Aldi untuk duduk di depanku. “Maaf nih ganggu makan kalian, gak masalah kan?” Aldi menatap sinis kepadaku. “Oh tentu saja tidak, kita kan sudah seperti keluarga Aldi, jadi tidak perlu sungkan.” Dandi mengerlipkan matanya pada Aldi.

“Jadi bagaimana nih, setelah setahun lebih menikah apakah kau sudah hamil Lenia?”

Aku terbatuk dan menumpahkan air putih di depanku. “Oh aku belum.. belum dikasih sama Allah, kan kita harus menunggu untuk dipercayakan menjaga dan merawat anak.”

“Oh, begitu.” Aldi mulai memakan makanan yang baru saja disajikan oleh pelayan.

“Ngomong-ngomong kamu masih honor ya di kantor itu Aldi?” Dandi memecahkan kesunyian diantara kami.

“Hem begitulah.” Jawab Aldi dengan cuek.

“Kamu belum menikah?” Dandi kembali bertanya.

“Aku? Aku menikah? Aduh mas Dandi. Lucu sekali pertanyaanmu, siapa sih wanita yang mau menikah dengan pria yang tidak mapan sepertiku. Masih honor, tidak sepertimu mas sudah pegawai negeri.” Jawab Aldi melihatku dengan tatapan sinis.

Aku tidak tahan dengan pemandangan ini dan izin untuk ke toilet.

“Bagaimana sayang, kita jadikan kencan malam ini? Aku sudah kangen berat sama kamu.” Dandi memegang tangan Aldi.

“Tentu saja aku akan berkencan denganmu seperti biasanya. Tunggu aja jam 10 malam seperti biasa. Tunggu Lenia tidur dulu kan?”

“Iya dong, aku tidak mungkin meninggalkan Lenia sendirian di rumah. Aku kan sangat menyayanginya. Tapi aku mencintaimu sayang.” Dandi menatap Aldi dengan manja.

Aku kembali duduk bersama mereka untuk meneruskan makanku, aku melihat suamiku dan Aldi telah menyelesaikan makanannya dan mereka sedang meminum jus alpukat.

“Abang, Leni sudah kenyang, kita pulang saja sekarang.” Aku merajuk pada Dandi agar segera pulang karena tidak tahan dengan tatapan sinis Aldi padaku.

“Baiklah Abang bayar dulu ya, sebentar ya Aldi.” Dandi menuju meja kasir untuk membayar makanan kami semua.

“Lenia aku tahu kamu sangat mencintai suamimu yang abnormal itu kan, hahahaha aku pikir kamu bahagia dengan pernikahanmu ini, ternyata sama saja tidak bahagianya. Aku semakin yakin kalau kamu bakalan jadi perawan tua selamanya.”

“Jaga mulutmu Ald! Aku bahagia dengan suamiku, aku sangat-sangat bahagia suamiku itu lelaki baik, kamu jangan memfitnahnya yang tidak-tidak.”

“Okelah cantik, kalau kamu tidak percaya, jangan tidur nanti malam jam 10 ya. Kamu liat aja, suamimu akan tetap di rumah atau tidak dan jika suamimu tidak di rumah carilah dia di Café Doremi belakang Stadion. Oke mantan kekasihku.” Aldi menepis daguku dengan tangannya. Aku hanya diam dan marah didalam hati.

“Ayo kita pulang sayang. Aldi kita pulang duluan ya.”

“Oh iya, terima kasih makanannya ya mas, sudah dibayarin. Daaahhh.”

***

Aku belum bisa memejamkan mataku masih teringat kata-kata Aldi tadi siang mengenai Dandi, ada hubungan apa antara Dandi dan Aldi. Aku sangat bingung dengan teka teki ini. Aku keluar kamar dan melihat suamiku sedang menghadapi laptop, aku membawakannya secangkir teh hangat.

“Abang, Lenia bikinkan teh untuk menemani abang menyelesaikan pekerjaan abang, jangan tidur larut, meskipun besok libur abang harus istirahat cukup. Lenia sayang abang, Lenia tidur duluan ya.” Dandi mengecup keningku sebelum aku meninggalkannya. Aku kemudian masuk ke dalam kamarku dan tidak mengunci pintu kamarku.

Aku tidak mengerti mengapa pernikahan yang aku hadapi sehampa ini, sunyi dan tidak ada terjadi seperti yang didambakan setiap pasangan suami istri, hanya kehampaan dan uang yang cukup yang selama ini ku rasakan, suamiku membolehkanku mengajar privat untuk mengisi kejenuhanku namun tidak membolehkanku bekerja tetapi tidak pernah aku merasakan cinta dari suamiku. Oh aku tidak tahu apalagi yang harus aku perbuat dan sampai kapan aku akan tahan dengan pernikahanku ini.

Waktu menunjukkan pukul 22.00, Dandi berjingkat-jingkat menuju kamarku dan melihatku untuk memastikan apakah aku tertidur atau tidak.

“Oh syukurlah kamu sudah tidur Lenia,” Dandi pergi meninggalkanku dan menuju pintu. Aku memastikan dia telah keluar rumah dan aku mengintipnya dari balik jendela, segera aku mengambil jaket dan jilbab sederhanaku. Aku membuntuti Dandi dengan motor tetanggaku yang sengaja aku sewa tadi siang. Hal ini aku lakukan agar dia tidak mengenali motorku. Aku melihat Dandi berhenti disalah satu salon bersama seseorang yang sangat aku kenal. Astaga…….

Aku sangat kecewa melihat semua ini, ternyata selama ini yang bernama flower diponsel suamiku adalah dia, yang selama ini sangat aku kenal dan membuatku bahagia ternyata yang selama ini dituduhkan Yanti dan Hakim kepadaku tentang Dandi itu benar. Selama ini aku masih bisa memaafkan suamiku yang tidak pernah membahagiakanku selama pernikahan ini berlangsung. Namun hari ini aku sangat kecewa dengannya dan pria dihadapannya itu. Aku muak dan tidak tahu harus berbuat apa bahkan untuk menatap mereka lagi aku sudah jijik, namun aku tidak bisa membuang rasa sayang dan cintaku pada suamiku ini.

***

Perasaanku hancur melihat yang terjadi di depan mataku saat ini, aku sungguh tidak percaya dengan semua ini. Semua mimpiku mengenai sebuah keluarga lengkap dengan peri kecil yang menghiasi rumah kami yang sepi ini sirna. Harapanku pupus dengan menetesnya air mata ini, aku berharap suamiku dapat sembuh dari penyakitnya ini, tapi itu hanyalah khayalanku saja hanya keinginanku saja. Oh Tuhan.

Aku mengambil album foto yang aku letakkan di dalam lemari kamarku, betapa bahagianya wajahku disana mengenakan baju kebaya berwarna merah jambu sepadan dengan jilbab berhiaskan mahkota perak yang dirancang khusus mengikuti gayaku yang sedikit manja. Wajah Dandi juga terlihat bahagia mengenakan baju yang sewarna denganku karena kami sama – sama menyukai warna merah jambu. Semua wajah tampak bahagia disana memancarkan senyuman bahagia karena melihatku menikah, namun tampak satu wajah yang terlihat murung yaitu wajah ayahku. Semenjak awal acara pernikahan itu wajah ayah terlihat murung, apakah ayah mengetahui Dandi yang sebenarnya? Aku hanya bisa pasrah dengan keadaanku ini. Aku benar – benar bagaikan burung di dalam sangkar. Aku ingin menceritakan semua kepada mbak Sisi tetapi aku terlalu takut pada Mas Cahyo. Aku sangat dilema.

“Sayang kok belum tidur sih? Ini sudah jam 2 pagi sayang. Kenapa kamu belum tidur? Kamu terbangun ya?” aku tidak sadar jika Dandi telah pulang ke rumah. Aku juga tidak tahu apakah sedari tadi Dandi memperhatikanku menangis. Aku segera menghapus air mataku dan berpura – pura bersin agar tidak terlihat seperti orang habis menangis.

“Abang sudah pulang? Abang darimana kok tidak bilang sama aku kalau mau keluar malam?” aku tersenyum mengalihkan pembicaraan dan sengaja tidak menjawab pertanyaannya.

“Oh tadi abang keluar karena ada urusan sama teman abang, hmm itu biasa abang coba – coba bisnis dengan teman abang hehehehe. Kamu kenapa sayang? Seperti habis menangis.” Dandi menatap wajahku tajam seolah – olah ingin menelanku.

“Enggak Abang, tadi aku sudah tidur dan aku terbangun karena kepalaku sangat pusing, sepertinya aku akan flu. Aku ingin membuat teh dulu ya, abang mau aku buatkan?” Dandi menggelengkan kepala dan berkata, “ Aku mengantuk, aku ingin tidur. Selamat malam Lenia.” Dandi menuju kamarnya dan menutup pintu.

Aku enggan ke dapur untuk membuat teh, aku meminum air putih yang ada di atas meja kerjaku dan menuju meja riasku. Aku duduk termenung dan melihat sosok seorang nyonya palsu, bergelarkan nyonya Dandi Lesmana yang disegani oleh orang lain karena status pekerjaan Dandi yang dikenal baik serta pribadi Dandi yang baik terhadap semua orang. Aku kembali melihat sosok seorang perempuan yang berstatus nyonya tapi sebenarnya nona. Seorang perempuan bersuami di hadapan semua orang namun tidak untuk dirinya sendiri, perempuan yang berpura – pura bahagia dengan pernikahannya dan menutupi kekeliruan yang dilakukan suaminya, sosok perempuan yang dengan sabar tidak pernah mendapatkan nafkah batin namun senantiasa menjaga kesuciannya hanya untuk suami yang sangat dicintai dan disayanginya namun merasa tersiksa karena belum mampu mendapatkan kebahagiaan seperti perempuan – perempuan lainnya yang telah mendapatkan peri cantik untuk dibesarkan bersama suami. Aku menatap sosok bodoh dihadapanku yang terjebak cinta seorang pria yang tidak pernah bisa mencintaiku lahir batin, dia hanya mencintai statusku, wajahku dan menjadikanku korban untuk menjaga nama baiknya dari orang – orang yang mengenalnya. Aku hanya dijadikan topeng untuk menutupi kekeliruan yang orang-orang tuduhkan padanya sehingga itu menjadi tidak benar.

Aku igin menceritakan semua kisahku dengan orang lain tetapi aku sangat takut dan tidak ingin merusak nama baik suamiku kepada orang lain, aku sudah cukup lelah berumah tangga seperti ini, aku ingin bercerai darinya namun aku sangat menyayangi dan mencintainya. Aku memang wanita yang sangat bodoh. Air mataku tak berhenti membasahi pipi mulusku, Dandi selalu memperhatikan wajahku dan melarangku memiliki jerawat satupun bahkan Dandi akan sibuk memarahi dan mencarikanku obat untuk mengatasi wajahku jika berjerawat.

***

Tok tok tok tok….

“Sayang sarapanku mana? Kamu kenapa belum bangun sih? Ini sudah jam 06.30 loh, aku sebentar lagi pergi kerja nih sayang.” Aku mendengar Dandi mengetuk kamarku dan menagih sarapannya seperti biasa. Aku sengaja mengunci kamarku dan tidak menjawab pertanyaannya. Aku terlalu takut untuk keluar dengan wajah tidak tidur semalaman dan mataku bengkak akibat menangis. Aku ingin membenci suamiku yang telah mengecewakanku, namun sepertinya itu sulit.

“Dasar istri pemalas! Kamu tahu kan kewajibanmu itu menyiapkanku makanan pagi, siang, dan malam. Gak kasian apa sama suami sudah capek kerja tapi gak dikasih makan gitu. Sarapan apa abang pagi ini Lenia? Kalau kamu begini abang nikah lagi aja kapok kamu.” Dandi mengomel kepadaku, tetapi aku sudah tidak begitu mempedulikan omelannya. Aku tetap memilih diam dan tidak keluar dari kamar hingga ku dengar suara motor Dandi meninggalkan rumah kami.

Aku mengambil ponselku dan mengaktifkannya. Aku sengaja tidak mengaktifkan ponselku daritadi malam karena aku ingin menenangkan diri. Banyak pesan singkat dari grup bbmku. Teman-teman kuliahku mengajakku untuk kumpul sore nanti di sebuah rumah makan. Aku sanagat senang mendapatkan pesan ini, setidaknya aku sedikit terhibur dan bisa melupakan masalah yang aku pendam selama ini, aku berharap pertemuan nanti tidak menyakitkan hatiku dan mampu membuatku bahagia.

***

Aku mendatangi warung Klassik untuk memenuhi janji yang telah aku dan teman – teman kuliahku buat. Terlihat teman – teman kuliahku banyak yang sudah memiliki anak bahkan ada yang sudah memiliki 2 anak. Sungguh bahagia melihat mereka tumbuh menjadi keluarga yang seutuhnya bukan keluarga yang cacat seperti aku.

“Hei Len, tambah cantik aja nih.” Ani mengajakku duduk disebelahnya. Aku tersenyum padanya dan berkata, “ Ah kamu ini bisa aja, sudah tua kok dibilang cantik. Hehehe… eh iya ini anakmu ya? Udah berapa tahun umurnya.” Aku mencubit pipi Aurel anak dari Ani.

“Oh anakku masih bayi bah Lenia, masih juga 11 bulan, belum ada setahun tapi badannya aja nih subur, gimana gak subur kan emaknya aja subur. Hahahha.” Terlihat wajah bahagia Ani menceritakan keluarganya yang bahagia dengan bayi gendutnya yang sangat lucu. “Eh kok kamu datang sendiri? Suamimu mana? Kan belum punya anak jadi bawa suami aja gak masalah dong. Iya kan kawan – kawan?” Santi yang sejak SMA dan kuliah sangat membenciku itu sengaja menjebakku dengan pertanyaan sadisnya yang dia fikir tidak bisa aku jawab.

“ Oh suamiku lagi kerja, dia harus bekerja keras agar bisa membelikanku berlian dan emas permata. Hahaha” aku mengalihkan pertanyaan Santi yang sengaja ingin menyudutkanku. “Eh iya Santi kamu sendiri gimana kabar suami dan anak – anakmu?” aku membalas pertanyaan Santi dengan pertanyaan yang sama. “Baik aja.” Santi menjawab singkat dan menyeruput kopi miliknya.

Setelah berbincang – bincang dan makan sore bersama teman – teman kuliahku akhirnya kami memutuskan untuk pulang dan akan membuat janji untuk berkumpul bersama seperti ini. Aku kemudian menuju parkiran untuk mengambil motorku dan segera pulang kerumah untuk masak makanan kesukaan suamiku. Aku merasa seperti ada sesuatu yang tertinggal di dalam warung itu, aku kembali masuk ke dalamnya untuk mencari ponselku yang benar ketinggalan. Belum sempat aku menuju meja tempat kami berkumpul tadi, aku melihat suamiku sedang asik bersenda gurau mesra dengan seseorang yang ku kenal, aku menutupi kedua wajahku dengan tas, segera mengambil ponsel itu dan pulang. Aku tidak ingin melihat adegan menjijikkan itu lagi.

***

From : Dandi

Lenia sayang km gk sah masak, abang td udh mkn, abg bungkuskan Lenia juga, jd g prl masak ya.

Aku membaca sms dari suamiku, iya aku tahu dia sudah makan malam dengan pacarnya. Baiklah aku sepertinya sudah tidak tahu sampai kapan aku akan menutupi ketidaktahuanku dan berpura- pura dihadapan suamiku dan menerima kondisinya apa adanya bukan ada apanya. Menerima nasibku yang seperti ini dan mengatakan semua kepada orang tuaku jika aku baik – baik saja dengan pernikahanku serta kembali berbohong jika aku belum mau untuk mempunyai anak dan menundanya dahulu untuk menutupi kelakuan Dandi yang tidak pernah memberiku nafkah batin. Sempat terfikir olehku untuk berselingkuh dan mendapatkan janin dari lelaki lain, namun aku buang fikiran kotorku itu karena aku percaya Allah akan menjagaku agar tetap dijalan yang benar dan tetap aku menjaga kesucianku hanya untuk suamiku, terpaksa berbohong kepada semua orang mengenai kehidupan rumah tanggaku yang terlihat manis namun terasa pahit. Menjaga nama baik Dandi dihadapan keluarga dan juga sahabat – sahabatku.

Aku menatap jam dinding menunjukkan pukul 19.00. Dandi belum pulang dan aku juga tidak terlalu lapar karena sudah makan di luar bersama teman – teman kuliahku. Aku melihat kamar Dandi yang terbuka, tidak biasanya Dandi membiarkan kamarnya tebuka saat berpergian. Aku penasaran dengan kamar itu dan ingin memasukinya. Aku ingin tahu apakah aku mendapatkan petunjuk mengapa suamiku berkelakuan aneh seperti ini. Aku melangkahkan kakiku untuk masuk kedalamnya, namun terdengar suara motor Dandi memasuki garasi rumah. Aku menghentikan langkahku dan berpura – pura tertidur di sova.

“Assalamualaikum. Sayang kok tidur di sini? Kamu lapar ya? Maafkan abang ya sayang kalau pulangnya lama, kamu pasti belum makan kan karena baca sms abang tadi.” Dandi seperti biasa mencium keningku saat tiba di rumah, aku tidak tahu mengapa dia masih bisa memperlakukanku seperti itu sementara dia tidak bisa memberikanku nafkah batin. Aku bangun dan duduk disebelahnya, merangkulnya dan berkata, “Abang aku tadi habis ketemuan sama teman – teman kuliahku. Mereka banyak perubahan terlihat bahagia sekali.” Aku tersenyum dan menyandarkan kepalaku dipundaknya. “Terus apa lagi? Kamu senang sekali kelihatannya? Apa yang membuatmu sangat senang?” Dandi mengelus rambutku yang lembut.

“Aku bahagia karena mereka menjadi keluarga yang utuh, aku ingin seperti mereka abang, bahagia mereka bahagia. Aku ingin punya anak!” aku meneteskan air mataku. Dandi melepaskan tangannya dari rambutku dan berkata, “Makanlah dulu makanan ini akan dingin kalau tidak segera kamu makan, abang lelah mau mandi dulu.” Dandi menuju ke kamarnya dan tidak menghiraukan permintaanku. Mungkin ini sudah takdirku menerima kenyataan untuk bermimpi menjadi seorang istri dan ibu. Ya hanya ada dalam mimpiku saja dan tidak terealisasi didunia nyataku.

***

“Sayang hari Minggu nanti apakah kamu ada acara bersama teman – temanmu?’ Dandi melihatku dan mengunyah nasi goreng yang aku buatkan seperti biasa. Ia tidak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun atas pertanyaanku yang tidak bisa dia jawab. “Untuk sementara belum ada janji dengan siapapun.” Jawabku datar sambil menuangkan segelas susu untuknya. Dandi sudah terbiasa dengan sarapan yang menurutku aneh seperti ini, nasi goreng dan segelas susu. “Baiklah sayangku, kalau gitu kamu bisa menemani abang untuk ikut acara bapak dan ibu di kantor abang, habis disuruh bawa istri sih abang sebenarnya ingin dirumah aja malas ikut gituan, kan lagian biasanya kita juga ke rumah ibu abang atau ibu dan ayahmu kan. Jadi nanti kita ikut acara itu aja biar kamu juga gak jenuh. Gimana sayang.” Dandi memegang tanganku, aku sebenarnya bingung dengan suamiku ini, mampu memanjakanku dan mampu menyakitkan hatiku. Aku hanya mengacungkan jempolku pada Dandi.

“Abang berangkat ke kantor dulu ya sayang, hati – hati di rumah. Abang sayang Lenia.” Dandi mencium keningku. Aku hanya tersenyum dan memeluknya. Aku sangat sayang pada Dandi dan tidak ingin menyudahi pernikahanku meskipun aku terjebak seperti ini selamanya.

***

“Sayang sudah mainnya ini Ibu beliin baju baru buat Dandi, cantikkan? Sengaja Ibu pilih ini karena ibu tahu Dandi dan kak Cici suka warna merah muda.” Dandi melempar foto dirinya mengenakan baju mini bewarna merah jambu. “Ahhh aku benci masa laluku yang membuatku menjadi seperti ini. Aku jijik dengan diriku sendiri. Aku sayang padamu Lenia aku teramat sayang padamu, tapi aku tidak ingin menyakitimu. Aku ingin memiliki anak denganmu aku sangat mencintaimu tapi aku malu untuk menyentuhmu dan memberimu anak.” Dandi menatap foto pernikahannya di meja kerja kantornya. Terpampang wajah ayu oriental bermata sipit berkulit cerah tersenyum bahagia merangkul seorang laki – laki yang juga tersenyum bahagia. Dia meluapkan emosinya karena kebetulan tidak ada guru – guru lain di dalam ruangan itu, Dandi meneteskan air matanya mengetahui kesalahan pernikahannya selama beberapa tahun ini. Ia ingin menceraikan Lenia namun ia teramat mencintai istrinya dan tidak ikhlas untuk menceraikannya, namun ia juga tidak bisa menjadi seperti yang diimpikan seorang wanita normal lainnya.

“Aku sudah berusia 41 tahun, namun aku belum bisa berubah dan memberikan istriku nafkah seperti yang laki – laki lain berikan kepada istrinya, aku juga ingin memiliki anak tapi itu pasti tidak semudah itu, aku mencintaimu Lenia tapi aku sadar aku tidak bisa membahagiakanmu. Apa yang harus aku lakukan?” Dandi menghapus air matanya dan segera menyimpan foto dirinya yang mengenakan pakaian berwarna merah jambu bersama seorang perempuan di masa kanak – kanaknya itu.

“Pak Dandi, apakah anda ada masalah?” Bu Dewi mengagetkan Dandi yang melamun menatap foto pernikahannya. “Eh mengagetkanku saja ibu nih, hehehe iya nih aku sedih karena sampai saat ini istriku tidak juga memberikanku bayi. Aku ingin sekali memiliki bayi Bu.” Dandi mengalihkan pembicaraan. “Sabar. Semua itu butuh proses Pak, banyak berdoa saja. Aku aja sampai saat ini ingin anak perempuan namun belum dikasih juga.” Bu Dewi tertawa bersama Dandi dan mereka keluar untuk mengajar di kelas masing – masing.

***

Tarakan, 11 Januari 1993

Dear diary……

Hari ini aku sebel sebel banget deh sama Ibu, aku kan minta dibeliin baju warna coklat itu yang lagi heboh di televisi yang dipakai sama artis geovany. Eh malah diberikan baju cewe terus. Sejak kecil ibu suka banget sama warna merah jambu dan memakaikanku baju kembar dengan sepupuku itu. Sebenarnya aku malas sih make itu baju. Tapi sudahlah ah. Tau gak diary sekarang aku sudah sekolah SMP loh, tapi di sekolah teman – temanku jijik berteman sama aku yang laki – laki. Mereka bilang aku ini anak mama terus semua barang – barangku berwarna merah jambu termasuk buku tulisku. Ini semua ulah ibu. Tapi sepertinya aku jatuh cinta sama warna itu. Sudah ah capek nih.

Dadadadaaa diary. Muach.

Dandi Cantik.

“Apa? Jadi suamiku ini sejak SMP sudah menyukai warna pink. Apakah ada hal lain yang membuatnya seperti ini sekarang? Apakah ini bagian dari bayang – bayang masa lalunya?” aku bergumam dalam hati dan kembali membaca buku diary Dandi yang ku temukan ditumpukan lemari bukunya karena kamarnya tidak dikunci saat ia pergi bekerja tadi pagi. Buku diary berwarna merah jambu dengan hiasan pita ungu menambah kecantikan buku diary yang saat ini sedang aku pegang. Aku masih penasaran dengan masa kecil Dandi. Saat Dandi SMP ia berumur 13 tahun, saat itu aku masih berusia 1 tahun. Benar-benar gila dan sangat memuakkan.

Tarakan, 12 Februari 1993

Dear diary…..

Hampir sebulan aku gak nulis. Kamu pasti kangen aku coret-coret. Aku hari ini bahagia banget tau gak kenapa? Aku naksir sama guru bahasa inggris di sekolah, orangnya mungil dan cantik. Udah begitu pintar. Aku berjanji aku akan belajar sungguh – sungguh dan mau jadi guru bahasa inggris.

Good bye diary.

Dandi

Aku kembali membuka lembaran berikutnya untuk melanjutkan rasa penasaranku terhadap masa kecil Dandi.

Tarakan, 20 Februari 1993

Dear diariku cantik.

Diari aku hari ini sangat kesal, semua teman-temanku mengataiku Bunga bangkai, aku tidak tahu mengapa semua teman-temanku mengataiku seperti itu. Mereka sepertinya sangat terganggu dengan kehadiranku, uhhh sebel deh aku diari, tapi hanya Reza ya hanya dia teman lelaki yang mau berteman denganku. Aku sangat menyayanginya diari. Eh tau gak aku kecewa, ternyata guru cantik itu sudah punya pacar dan pacarnya itu adalah guru matematikaku. Kan sebel akunya. Kenapa sih guru itu mengecewakanku? Tapi liat ya aku pasti bisa kalahkan dia dimasa depan.

Dandi.

Aku ingin melanjutkan membaca buku harian itu, namun mataku tidak sanggup untuk membacanya karena pengaruh tidak tidur semalaman. Aku menyimpan buku harian tersebut ditempat yang menurutku paling aman dan tidak diketahui Dandi. Aku sangat tidak menyangka jika masa lalu Dandi sangat suram dan tidak berwarna. Aku sangat tidak menyangka dimasa lalu itu Ibu mertuaku memperlakukan Dandi seperti layaknya anak perempuan. Tapi apakah itu penyebab Dandi menjadi seperti ini sekarang. Mengapa harus aku yang menuai hasilnya? Apakah ini karma bagiku karena aku memilih Dandi dan menolak pria-pria yang ingin menikahiku? Aku telah dipengaruhi oleh ketampanan dan status pegawai serta hidup enak yang dimiliki Dandi tetapi tidak untuk batinku, Dandi memang mapan dan dewasa namun sebenarnya ia sangat miskin dan tidak bisa membahagiakanku.

***

“Maafkan Abang sayang, abang sepertinya tidak bisa begini terus dan mungkin suatu saat kita harus bercerai, abang takut tidak bisa membahagiakanmu dimasa depan, usiamu masih muda dan masih bisa mendapatkan kebahagiaan dari lelaki yang tulus padamu bukan seperti aku yang mengorbankanmu hanya untuk keegoisan ini.” Dandi membelai rambut Lenia yang sedang tidur di atas sova. Waktu menunjukkan pukul 14.00 dan Dandi segera pergi ke dapur untuk makan siang. Dandi melihat diatas meja sudah tersedia sup ikan kesukaannya dan tidak lupa tumis pare kesukaan Lenia. Dandi melihat tumis pare itu dengan sedih. “Apakah perasaan istriku selama ini seperti pahitnya tumis dihadapanku ini? Tapi aku tidak bisa memungkiri jika aku memang tidak bisa menyentuhnya, apalagi memberikan bayi untuknya aku tidak bisa.” Dandi meneteskan air matanya. Ada gejolak batin bergelut manja di dalam batin.

“Sudah pulang Bang? Maaf Lenia ketiduran, Len sangat ngantuk karena semalam tidak bisa tidur. Abang makannya kok kayak gitu?” Lenia mengagetkan Dandi yang sedang melamun sembari mengunyah makan siangnya. “Sini Sayang temani abang makan. Nanti sore kita jalan yuk. Abang pengen beliin kamu baju baru. Baju kamu kan sudah lusuh semua abang malas ah liat kamu rembes gitu.” Dandi mengalihkan pertanyaan yang diajukan Lenia.

“Emangnya mau beli baju apalagi sih Bang? Kan bajuku juga baru abang beliin berapa bulan yang lalu. Aku tidak butuh barang mewah serta yang lain. Aku hanya ingin anak abang. Aku ingin anak!” aku tidak tahu mengapa kalimat itu begitu saja keluar dari mulutku. “Lenia! Tolong jangan bahas ini dimeja makan, aku sangat emosi padamu! Istri macam apa yang menemani suami dan menanyakan hal ini saat makan?” Dandi memukul meja dan membentakku. Aku meneteskan air mata berdiri dari meja makan dan berkata,” Oke teruskan saja makanmu, aku sudah capek punya suami kelainan sepertimu! Kamu tahu aku mencintai dan menyayangimu tulus apa adanya. Tolong jadilah imam seperti imam lainnya. Suatu pernikahan akan berujung bahagia jika imam mampu membawaku ke surga dan ke jalan Allah. Apakah selama ini kau pernah menyentuhku? Apakah kau sudah memahami kodratmu sebagai laki-laki dan suami seuutuhnya? Aku rasa kau sangat bodoh dan terjebak didalam sangkar karena kau telah membohongi dirimu sendiri. Sebuah kapal akan sampai dengan selamat ke tempat tujuan jika nahkoda kapal itu mengendalikan ke jalan yang benar. Begitu sebaliknya. Tanyakan pada hatimu apakah kau mencintaiku Bang? Apakah aku benar-benar ada dihatimu atau hanya sebagai penutup statusmu saja? Aku sudah lelah dengan pernikahan ini. Aku jujur mencintaimu tapi apakah kau tidak ada memikirkan bagaimana cara mencintaiku? Aku rasa kau tau jawabannya karena kau seorang guru yang sangat jenius. Oke pak Guru.” Belum sempat aku beranjak menuju kamarku Dandi melemparku dengan sendok yang digunakannya untuk makan.

“Apakah kau ingin membunuhku Bang? Ayo bunuh aku sekarang. Aku lebih baik mati daripada tersiksa batin denganmu. Ayo bunuh saja.” Aku mengangkat tangannya dan meletakkannya diwajahku.

“Hentikan Lenia, wanita tidak tahu diri! Kenapa kau berbicara seperti ini padaku? Apa kau sudah tidak waras? Baiklah kalau itu maumu aku akan membunuh dirimu sekarang.” Dandi mengajakku ke kamarku dan mengikat tanganku. Aku sangat takut dan tidak tahu harus bagaimana. Semua kaki dan tanganku diikat oleh Dandi. Ponselku ku letakkan di atas meja riasku. Aku tidak bisa meraih ponsel itu, aku pasrah jika terjadi sesuatu padaku, berserah diri pada Allah dan mengharap aku bisa terbebas dari ikatan ini.

“Hai Sayangku. Apakah kau sudah siap mati? Aku akan memberikanmu ini sayang. Kau akan bahagia dengan ini, kau ingin kebahagiaankan dariku? Tentu saja aku akan memberikannya. Aku sangat mencintaimu Lenia terlalu sayang bahkan. Aku akan mati bersamamu sayang. Tapi aku ingin memperlihatkanmu sesuatu terlebih dahulu.” Dandi melemparkan sebuah benda keras ke arahku sehingga aku merasa kesakitan dan terjatuh tidak sadarkan diri.

*END*

birukuning

Add comment