Birukuning

BERBICARA KECANTIKAN

babong - BERBICARA KECANTIKAN
Oleh : Suriadi (bobong)

Senantiasa tampil cantik dan menawan pasti akan memancarkan keindahan. Hal ini tentu saja menjadi dambaan setiap insan, terutama dari kalangan kaum hawa. Hingga sebagian dari kaum hawa, memprioritaskan kecantikan untuk bisa memperlihatkan pesonanya sebagai wanita. Hal ini memicu berbagai perawatan dilakukan demi meraih penampilan yang di inginkan. Mulai dari metode tradisional hingga terapi mutakhir. Bahkan metode yang bersifat menyimpang  banyak tersedia untuk mewujudkan impian tersebut. Aktivitas ini tidak hanya di lakukan kaum hawa, realitanya kaum adam juga memiliki kecenderungan yang sama. Wahhhhh ….. wahhhhh ….. Apakah sebagian kaum adam telah terjangkiti koreanisme ? hehehe, fenomena pria metroseksual adalah salah satu bukti, bahwa pria juga memiliki kecenderungan yang sama.

Penilaian sebuah kecantikan, selalu memiliki sebuah formulasi baru dari masa ke masa, tentu saja ini menyebabkan terjadinya pergeseran. Gerangan apakah yang dapat  mempertahankan nilai kecantikan itu?

Sebagian penduduk pribumi, mengadopsi nilai-nilai kecantikan dari budaya luar sebagai parameternya dalam menilai kecantikan. Hingga tidak asing lagi di telinga kita bahwa, cantik di era sekarang harus seperti orang korea, arab, atau orang-orang yang berada di daerah eropa dan daerah lainnya. Jika dahulu, demi terlihat cantik dan menawan, orang rela menggunakan susuk dan tehnik perdukunan lainnya, maka sekarang dengan masuknya arti kecantikan budaya asing, ada sebagian orang rela melakukan perubahan permanen pada wajah dan anggota tubuh lainnya, seperti operasi plastik agar dapat terlihat cantik dan menawan.  Di sinilah terlihat dengan jelas, bahwa rasa syukur akan esensi sebuah penciptaan mengalami pergeseran secara perlahan-lahan. Ini karena penilaian kecantikan hanya berfokus pada kecantikan jasmani saja. Hal ini telah membuat sebagian dari kita lupa bersyukur kepada Allah SWT atas penciptaan ini. Firman-Nya “mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? (QS. Annisa (4):147), “Dan kami akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur” (QS. Ali Imran (3):145), “sesungguhnya jika kamu bersyukur, kami pasti akan menambah nikmat kepadamu” (QS. Ibrahim (14):7)

Bukankah manusia diciptakan dengan bentuk yang sebaik-baiknya ?

Faktor apakah yang mendorong kita hingga selalu ingin lebih dari apa yang telah di tentukan oleh Allah SWT. Kenapa ada saja orang yang melupakan untuk memanjatkan syukur atas nikmat Allah SWT didalam dirinya?

Kaya, miskin, cantik, ganteng, tinggi, pendek, hitam, putih dan lain sebagainya tidak menjadi penilaian bagi Allah SWT yang telah menciptakan alam semesta beserta isinya. Tetapi kita selaku ciptaan yang lemah (dhoif), justru memilih-milih. Dalam berteman kita memilih, yang kaya, cantik, ganteng menjadi teman, sedangkan miskin, jelek, hitam di jauhi, parahnya lagi sebagian orang minder untuk berteman dengan orang yang tidak sempurna fisiknya. Dalam bergaul juga seperti itu, bentuk fisik menjadi faktor penentu bagi sebagian orang dalam mencari teman bergaul.. Hal ini sedikit menggelitik, kenapa demikian ?. Tuhan saja, yang menciptakan tidak menilai dari kaya, miskin, cantik, ganteng, dan lain sebagainya. Laaahhhhhhhh…… kita, yang hanya ciptaan kok milih-milih ? Yahhhhh……. di fikir-fikir saja friend apa kita pantas milih-milih teman bergaul karena melihat bentuk fisik dan lain sebagainya ?

Cari calon istri itu yang alisnya tidak luntur kalau wudhu” kata-kata ini membuat sebagian orang senyam-senyum membacanya, hingga ada juga yang tersinggung. Yahhhh, di maklumi saja, namanya juga untuk menjadi cantik harus butuh make-up walaupun sedikit kelebihan, hehehe.

Sejarah dimasa  lalu meninggalkan jejak para perempuan yang ikut berperang dalam mempertahankan kemerdekaan. Jikalau dulu para perempuan berperang mempertahankan kemerdekaan membawa parang, sabit, kandao, dan lain sebagainya. Maka sekarang perempuan juga selalu membawa kandao (parang sabit), hanya saja letaknya di atas kedua mata alias alis (kening), hehehehe. Terasa agak lucu yah, karena ingin terlihat cantik, hingga ada saja orang yang tergolong berlebihan dalam mengenakan make-up. Bukankah hal itu menjadi bahan lelucon bagi orang-orang disekitarnya?.

Tampil cantik, menawan, adalah dambaan bagi kaum hawa, karena kecantikan dan keindahan menjadi nilai plus untuk lawan jenis untuk memilih cinta monyetnya (pacaran). Anehnya, cinta monyet ini yang katanya serius, keseriusannya  itu hanya dibuktikan lewat rangkaian kata di chattingan BBM, FB, IG, LINE, WA, dan sebagainya, hanya sampai disitu saja. Ini kah yang katanya serius? Di sisi lainnya ada juga kaum adam yang memilih pasangan hidup lewat jalur KUA. Yahh… lagi-lagi silahkan milih friend, mau yang lewat SOSMED apa KUA ?

Mengejar  penampilan jasmani tidak disalahkan dalam agama. Karena, selain merupakan fitrah manusiawi, Allah SWT pun menyenangi hamba-Nya yang memperhatikan penampilannya karena Ia Maha Indah dan mencintai keindahan. Hanya saja, perlu diketahui bahwa, penampilan fisik ini bukanlah segalanya. Kecantikan fisik akan luntur dan memudar seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, kecantikan fisik akan usang di makan usia. Maka, ada satu hal yang akan menjaga nilai kecantikan ini agar tetap terjaga dan tidak pernah sirna, yaitu menghidupkan kecantikan Rohani yang bersumber dari relung keshalehan hati. Ali r.a berkata “iman itu bukanlah cita-cita dan bukan pula khayalan manusia, melainkan ia adalah sesuatu yang menghujam kedalam hati dan dibenarkan lewat amal perbuatannya”.

Apabila kita telah tersadar untuk mempercantik diri secara lahiriyah dengan busana dan perawatan tubuh yang sesuai dengan aturan Allah SWT (syariat), mari kita sempurnakan dengan mempercantik Qalbu kita agar lebih dicintai Allah SWT beserta makhluknya. Seluruh fikiran, perkataan, dan perbuatan adalah buah akhlak yang sesungguhnya dikendalikan oleh hati. Maka pentinglah kita memahami hakikat hidup didunia ini.

Ketika seorang islam memahami hakikat hidup didunia ini. Hatinya akan segera bertindak untuk mempercantik diri dengan akhlak mulia sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw, serta membuang tindakan tercela berupa syirik, iri, dengki, dan takabbur. Untuk menghadirkan kecantikan rohani, tidak perlu menguras isi dompet untuk perawatan. Hanya perlu memperbanyak amal saleh dan menjauhi segala bentuk maksiat dan menggantinya dengan dzikir kepada Allah SWT.

Hidupkanlah bunga-bunga di taman ini dengan bermakrifat kepada Allah dengan sebenarnya makrifat. Mekarkanlah bunga-bunga itu dengan pemahaman makrifat yang telah mengakar dalam hati karena ia nya telah tajam oleh banyaknya limpahan dzikir dan fikir, terasah secara terus-menerus  dengan banyaknya renungan dan tadabbur. Tersibukkan dengan kelemahan diri sampai tidak ada lagi waktu yang tersisa untuk menanggapi ucapan orang jahil terlebih menanggapi kesalahan dan menceritakan aib saudaranya, tidak ada lagi waktu untuk berceloteh ke kiri dan ke kanan hanya untuk sekedar menyebarkan informasi yang tidak ada gunanya, terlebih menfitnah atau menggosip orang lain. Hanya hati orang-orang yang di sibukkan dengan Allah yang tidak akan tertipu dan terlena serta terbuai oleh Qiila Wa Qaala (banyak bercerita lagi berbicara) dan mungkin inilah ciri-ciri kebodohan seorang hamba sebagaimana yang di tegaskan Rasulullah Saw apabila ia lebih banyak berbicara dari berbuat, lebih banyak bercerita dari beramal, lebih banyak berangan-angan dan bermimpi dari beraksi dan berkontribusi, maka terlihatlah kedunguan seorang hamba. “Diantara cirri kebaikan ke-islaman seseorang adalah meninggalkan yang sia-sia” (HR. At Tirmidzi)

Suatu ketika Ibnu Abbas mengatakan, “sesungguhnya amal kebaikan itu akan memancarkan cahaya dalam hati, membersitkan sinar pada wajah, kekuatan pada tubuh, kelimpahan dalam rezeki, dan menumbuhkan rasa cinta di hati manusia kepadanya”

Marilah kita memulai dari diri sendiri (ibda’ bin nafsik), keluarga, dan lingkungan sekitar, barulah kemudian masyarakat luas. Kecantikan lahir batin akan membawa keberkahan dalam kehidupan dan menyemai segala kelakuan terpuji di lingkungan masyarakat. Kita yang lebih tahu atas diri kita sendiri, maka hendaklah kita jadikan diri kita sebagai panutan dan contoh bagi orang lain sebelum kita menyuruh orang tersebut. Sekitarnya akan baik, jika cerminan diri telah baik. Yakinlah, dunia ini akan indah hanya dengan kecantikan lahiriah melalui tindakan dan sikap terpuji kita, serta kecantikan rohani yang akan menjadi pembimbing atas sikap-sikap keseharian kita. CANTIK LAHIRIAH DAN ROHANI mestilah seiring dan berjalan bergandengan, serta saling melengkapi . Insya Allah, keindahan menanti di ujung sana.

“Semoga para pembaca bisa memetik hikmah dari tulisan singkat ini, jika terdapat kesalahan didalam tulisan ini maka itu murni dari kesalahan penulis dan jika ada kebenaran didalamnya maka itu datangnya dari Allah SWT pemilik segala ilmu.”

Wallahul Muwaffieq ila aqwamith Thorieq

Catatan penulis : “Pesan Sang Sahabat (BUKU)”

Kecantikan rohani ini akan memancar jika pemiliknya mampu menjaga kebersihan hati dan menghilangkan penyakit-penyakitnya. Betapa besarnya peran dan fungsi hati dalam membentuk kepribadian. Dalam sebuah hadist Rasulullah Saw berujar “ketahuilah didalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik, maka baik pulalah seluruh perbuatannya. Dan, apabila ia rusak, maka rusak pulalah seluruh perbuatannya. Ketahuilah itu adalah hati” (HR Bukhari dan Muslim).

birukuning

Add comment